Kajian Pranikah Dapat Mengantisipasi Angka Perceraian
Tingginya
kasus perceraian yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat
disayangkan banyak pihak. Apalagi jika mengingatBangsa Indonesia sebagai bangsa
yang beragama. Ketidakharmonisan yang terjadi antara suami dan istri disinyalir
timbul akibat kurang baiknya komunikasi yang terjalin antara suami dan istri
ketika sudah menjalankan hubungan pernikahan. Hal tersebut disampaikan oleh
Ustadz Fajar selaku pengurus Ma’had Abu Ubaidah dalam sambutan kajian Pranikah
yang diselenggarakan di Masjid Al Jihad Jalan Abdullah Lubis Medan, Minggu
(1/11)
Lebih lanjut
dikatakannya jika kurang fahamnya suami istri mengenai hak dan tanggung jawab
masing masing dapat menjadi faktor utamanya, karena itu sebelum pernikahan, masing-masing
pihak baik itu laki-laki ataupun perempuan harus belajar lebih dalam perihal
pernikahan. Kajian pranikah diharapkan mampu menekan dan mengantisipasi tingginya
angka perceraian yang saat ini sering terjadi.
Fajar juga mengemukakan
data perceraian yang ia dapatkan dari kementerian Agama, pada tahun 2011
tercatat sebanyak 2.118.130 orang yang menikah dan sebanyak 324.527 orang
melakukan perceraian. Jika dirata-ratakan dalam 1 hari terjadi 954 kasus perceraian.
Dalam 1 hari tersebut, sebanyak 70% perceraian terjadi akibat gugatan istri
terhadap suami. Karena itu Fajar
berharap seminar ini mampu membawa efek kedepannya. “Semoga dengan mengikuti
seminar seperti ini kasus perceraian dapat diminimalisir,”jelasnya.
Sementara
itu, Ustadz Abdul Latif Kahn selaku pembicara pertama dalam seminar ini
mengemukakan tentang banyaknya phobia yang dialamai anak muda ketika
hendak menikah. Sehingga akibat phobia tersebut, banyak anak muda yang
menghindari pembicaraan tentang menikah,bahkan tak sedikit yang menjadikannya
sebagai bahan ejekan
“Phobia
nikah itu muncul dari diri kita sendiri. Oleh karena itu, phobia tersebut
adalah sebuah masalah yang harus kita selesaikan. Menikah dari proses aqad
sampai akhir pernikahan (kematian) merupakan sebuah ibadah kepada Allah, yakinkanlah
diri sendiri jika memang sudah layak untuk menikah dan jangan takut untuk tidak
mendapatkan rezeki setelah menikah, karena Allah telah mengatur rezeki untuk
para hamba Nya. Nikah adalah sebuah ibadah untuk mengembangkan generasi,” jelasnya
dihadapan para peserta.
Di sisi
lain, Ustadz Yosi al Muzanni selaku pemateri Nikaphobia yang berasal dari
Malang menjelaskan bahwa para generasi muda terkhusus yang belum punya pasangan
agar mensyukuri kesendiriannya, karena dengan bersyukur akan tercipta rasa
bahagia ketimbang terus berkeluh kesah. Oleh karena itu ia berpesan kepada para
peserta agar menjadikan pernikahan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan.
Seminar
nikaphobia ini sendiri dihadiri oleh ratusan orang dari berbagai kalangan di
Kota Medan. kedepan panitia akan membuka sekolah pranikah yang pertama di
Sumatera Utara setelah sebelumnya sekolah seperti ini telah hadir di Kota
Malang, jember dan Jombang.(Ms)
Post a Comment