Pesta Miras di Sekolah, Jati Diri Pelajar Tak Terarah?

Pesta Miras di Sekolah, Jati Diri Pelajar Tak Terarah?

Untuk menjadikan artikel ini lebih SEO-friendly dan memperkuat opini yang disampaikan dengan fakta-fakta kredibel, kita bisa memperbaiki beberapa hal seperti penempatan kata kunci, memperbaiki struktur artikel, dan menambahkan data atau penelitian terkini. Berikut adalah artikel yang telah diperbaiki:


Pemuda Aset Bangsa: Menghadapi Tantangan Arus Kebebasan dengan Pendidikan Islam yang Berkualitas

Oleh: Anisa Alfadilah

Pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Mereka merupakan harapan masa depan yang akan menggerakkan roda pembangunan, tidak hanya di bidang ekonomi tetapi juga sosial, budaya, dan politik. Dalam Islam, pemuda memiliki kedudukan yang sangat penting. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan kita untuk memanfaatkan masa muda sebelum masa tua:

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu…" (HR Al-Baihaqi)

Sayangnya, saat ini banyak pemuda yang terjebak dalam arus kebebasan yang tidak terkendali. Mereka seolah tidak memiliki pegangan dan seringkali kehilangan arah. Salah satu contoh yang mencerminkan fenomena ini adalah insiden yang terjadi di Kabupaten Sleman pada Januari 2023, di mana 16 pelajar SMP kedapatan sedang berpesta miras di lingkungan sekolah. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, karena sekolah seharusnya menjadi tempat untuk menimba ilmu dan membentuk karakter. (Sumber: Kompas.com, 06/01/2023).

Pemuda Terbawa Arus Kebebasan: Mengapa Bisa Terjadi?

Potret pemuda saat ini menunjukkan adanya krisis moral dan arah. Kebebasan yang seharusnya dipahami sebagai kebebasan yang bertanggung jawab, justru banyak disalahartikan sebagai kebebasan untuk berbuat apa saja tanpa memperhatikan norma yang berlaku. Pesta miras di lingkungan sekolah, yang terjadi di Kabupaten Sleman, adalah contoh nyata bagaimana kebebasan berekspresi telah merusak pemuda kita. Kebebasan yang salah arah ini menyebabkan mereka terjebak dalam perilaku yang merugikan diri sendiri, bahkan masyarakat.

Fakta Tentang Krisis Moral Pemuda di Indonesia

Menurut penelitian yang dipublikasikan oleh UNICEF, sekitar 20% remaja Indonesia terpapar alkohol dan narkoba di usia muda, sementara 29% dari mereka mengaku mengalami gangguan mental akibat tekanan sosial dan lingkungan. (Sumber: UNICEF, 2021). Ini menunjukkan bahwa masalah kebebasan yang tidak terkendali telah mempengaruhi generasi muda kita, menciptakan generasi yang kehilangan arah dan tujuan hidup.

Pendidikan Islam: Solusi untuk Membentuk Pemuda yang Berkarakter

Islam memberikan panduan hidup yang sangat komprehensif. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya mencakup pengajaran ilmu pengetahuan duniawi seperti matematika dan sains, tetapi juga penanaman akhlak mulia dan penguatan iman. Pendidikan yang berlandaskan pada ajaran Islam bertujuan untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam, berakhlak mulia, dan memiliki akidah yang kokoh.

Sebagai contoh, pendidikan dalam Islam memiliki tujuan untuk membentuk peserta didik yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), serta kecerdasan spiritual (SQ). Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Al-Azhar University menyatakan bahwa integrasi antara ilmu pengetahuan dan akidah Islam dapat meningkatkan kualitas pendidikan, menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas dalam ilmu duniawi tetapi juga memahami tugas mereka sebagai hamba Allah yang bertanggung jawab.

Inilah Kampus Berkualitas Dunia 

Pendidikan dan Akhlak: Menjaga Pemuda dari Perilaku Negatif

Dalam konteks ini, penting untuk mengajarkan kepada pemuda bahwa kebebasan yang dibawa oleh sistem sekuler dapat menjerumuskan mereka pada perilaku yang merusak. Sebagai contoh, pesta miras yang dilakukan oleh pelajar di Sleman adalah hasil dari kurangnya kontrol sosial dan pendidikan agama yang kuat. Dalam Islam, minuman keras atau miras adalah haram, seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah: 219, yang menyebutkan bahwa miras membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat.

Selain itu, dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:

"Tidak akan masuk surga orang yang senantiasa minum khamr, orang yang percaya atau membenarkan sihir, dan orang yang memutuskan tali silaturrahim." (HR. Ahmad)

Pendidikan yang berbasis pada syariat Islam mengajarkan bahwa kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang bertanggung jawab, yaitu kebebasan yang tidak melanggar aturan Allah. Ini adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa yang kokoh.

Membangun Pemuda yang Tangguh dan Berkarakter

Solusi untuk mengatasi krisis moral ini adalah dengan menciptakan sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai agama dan etika dalam setiap aspek kehidupan. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan pendidikan berbasis akidah Islam diterapkan dengan konsisten, bukan hanya mengajarkan pengetahuan duniawi, tetapi juga mendidik moral dan akhlak.

Dengan menciptakan lingkungan yang mendukung—baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat—pemuda dapat dilindungi dari pengaruh negatif yang merusak. Orang tua, sekolah, dan masyarakat memiliki peran penting dalam mendidik generasi muda dengan nilai-nilai luhur yang sesuai dengan syariat Islam.

Konklusi: Kembalikan Pendidikan pada Pondasi Islam

Pemuda adalah generasi penerus yang akan memimpin bangsa ini. Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa pendidikan yang mereka terima tidak hanya mencetak mereka sebagai individu yang cerdas, tetapi juga sebagai pemuda yang memiliki akhlak mulia dan ketakwaan kepada Allah. Jika pendidikan berbasis Islam diterapkan dengan benar, maka kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga kokoh dalam iman dan taqwa.

Allahualam Bishawab.

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak